Staf Departemen AFF Menjadi Nara Sumber di Komisi Fatwa MUIStaf Departemen AFF Menjadi Nara Sumber di Komisi Fatwa MUI

Dr.  drh. Ita Djuwita, M.Phil, PAVet(K) kemarin Rabu, 20 Juli 2011 untuk kedua kalinya telah diminta sebagai nara sumber oleh Majelis Ulama Indonesia.  Bertempat di Kantor Pusat MUI di Jl. Proklamasi Jakarta, Dr. Ita menyampaikan presentasi tentang “Anatomi dan Fisiologi Plasenta Hewan” dalam rangka sidang pleno untuk menentukan halal-haram penggunaan plasenta hewan untuk keperluan bahan obat dan kosmetika.

Latar belakang sidang pleno dilakukan merupakan rangkaian  dari proses sertifikasi halal produk dengan bahan baku plasenta yang diajukan oleh suatu perusahaan kepada Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) MUI . Jika plasenta diperoleh dari hewan ternak bunting yang telah disembelih secara syar’i, maka telah jelas kehalalannya. Pertanyaan timbul apakah plasenta yang berasal dari hewan partus (lahir normal) juga halal? Untuk inilah MUI membutuhkan nara sumber di dalam pengambilan keputusan fatwanya.

Penjelasan oleh Dr. Ita meliputi asal-usul, perkembangan, fungsi, hubungan antara janin dan induk, sampai kepada proses pengeluaran plasenta pada saat partus. Presentasi dilanjutkan dengan diskusi yang berlangsung cukup panjang. Diskusi mencakup pertanyaan-pertanyaan yang krusial seperti: Apakah plasenta berasal dari bagian anak ataukah induk? Apakah ia berasal dari sperma? Bagaimana struktur dan posisi plasenta terhadap anak atau induk? Apakah plasenta termasuk organ ataukah bukan? Apakah plasenta struktur yang harus ada? Bagaimana kalau plasenta tidak ada? Bagaimana fungsinya sebagai pembawa oksigen (pernafasan), pembawa nurtrisi dll.; Bagaimana ia bisa menempel atau berhubungan? Bagaimana proses lepas atau keluarnya? Apa bedanya plasenta hewan ternak dengan plasenta manusia? Mengapa pada ternak plasentomnya (sapi) banyak? Bagaimana ia bisa dimanfaatkan oleh industri? Apa yang ada di dalamnya dan bagaimana penggunaannya? Apakah ia termasuk bangkai ataukah tidak? Limbah atau bukan? Mengeluarkan darah yang banyak atau tidak? dan masih banyak yang lainnya. Dengan sabar, Dr. Ita menjawab dan menjelaskan satu-persatu pertanyaan -pertanyaan tersebut dengan bahasa yang sederhana, gamblang dan sistematis. Di akhir diskusi para ulama MUI menyatakan kepuasan atas penjelasan nara sumber yang selanjutnya memutuskan kehalalan penggunaan plasenta untuk bahan obat dan kosmetika.

Keputusan Komisi Fatwa MUI menetapkan: “Pemanfaatan plasenta hewan untuk kosmetika dan obat luar hukumnya halal“.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *